« October 2007 | Main | December 2007 »

Surat Untuk Sahabat

dear sahabat...
entah sudah sejak berapa lama aku tidak menghubungimu lagi..
entah sudah ribuan.. ataukah puluhan ribu waktu tak lagi kuhabiskan mengisi waktu dengan menulis surat padamu...

dear sahabat...
waktu cepat sekali beranjak sejak aku tak lagi menulis padamu...
aku lebih banyak berkutat dengan rutinitas dan kehidupanku sehari2...
tiada lagi kusempatkan waktu menyapamu..
untuk menceritakan kegiatanku sehari2..
seperti yang biasa kulakukan di kala aku masih belia...

hal indah.. hal sedih.. hal membahagiakan... selalu kita bagi bersama...
engkaulah belahan jiwaku...

sahabat..
semakin lama waktu mencekikku semakin erat... banyaknya kegiatan dan semakin sedikit waktu tersisa...
bahkan waktu untuk diriku sendiri...


tiada lagi kusentuh kertas surat wangi rempah dan buah2an yang biasa kugunakan menulis padamu...
tiada lagi kusentuh bolpoin bertinta ungu yang kugunakan menulis padamu...
bahkan meja tempatku menulis terasa sedikit berdebu...

sahabat... dulu kau yang paling mengenalku..
jauh lebih banyak yang kuceritakan padamu dibandingkan kepada orang tuaku sendiri sekalipun...
kau yang paling mengertiku.. memahami perasaanku... dan tidak pernah menghakimiku...
kapanpun aku datang padamu...
kau membuka tanganmu untuk menyambutku...
setiap kali aku ingin merebahkan diri untuk menangis...
kau selalu menyediakan bahumu untukku...
bahkan ketika tiada kata yang dapat terucap dari bibirku ini...
engkau setia menemaniku dalam diam.. dalam hening... dan seakan2 aku telah 'membagi' beban ini denganmu....
senyumanmu membuat aku damai..
tatapanmu tulus menyatakan bahwa aku tak pernah sendirian...
dan riang tawamu membuat hari2ku selalu indah...

dear sahabat...
entah sudah berapa lama aku tak lagi mendengar suaramu...
membaca tulisan2mu.. dan berbagi hari2 denganmu....
engkau yang dulu sangat mengenalku...
paling memahamiku.. mungkin kini tak lagi mengenalku.. bahkan diriku...!!
aku pun tak mengenal diriku sendiri....
apa yang terjadi pada diriku....???

sejak aku tak lagi menghubungimu...
aku tak tahu apalagi yang bisa kubagi denganmu...
masihkah engkau menerima apa adanya aku...
masihkah kau sambut aku penuh cinta dan sayangmu...
masihkah engkau menatapku tanpa pandangan menghakimi...???

aku takut sahabat... aku takut penolakanmu... aku takut aku tak lagi menerima uluran tangan ramahmu.. oh sahabatku... masih pantaskah aku disebut sebagai sahabat....???
aku takut engkau akan 'menemukan aku' di kala aku berbohong tentang keadaanku sekarang
aku takut engkau akan tahu bahwa aku tidak baik2 saja... bahwa banyak yang kusembunyikan darimu hingga aku tak lagi menulis padamu...

aku takut... bahwa kau akan melihaku seperti mereka melihatku....
aku tak siap kehilanganmu...
kehilangan satu2nya temanku... aku sendirian sahabat... dan aku memilih menjauh darimu.. menghindar darimu....

Kini... setelah sekian lama aku akhirnya kembali...
setelah tiada lagi yang dapat kubagi padamu...
aku mencoba 'kembali' untuk berjumpa denganmu...
aku berharap apa yang kita miliki tak pernah pergi sama sekali...

tapi... ternyata harapan tinggallah harapan... engkau pergi sahabat...
tak lama sebelum aku datang padamu.. betapa egoisnya aku..
tak pernah ku tahu engkau mengidap sakit yang serius...
apalah artinya persahabatan ini..
aku tak ada di saat engkau membutuhkan aku...

kini... engkau pergi selamanya dariku...
dan aku akan selalu mengenangmu...
dengan semua yang pernah kita miliki... persahabatan kita...

kini aku sendiri.. benar2 sendirian... dengan separuh diriku... karena separuh yang lain pergi bersamamu...
akankah ada yang dapat mengisinya lagi...

dear sahabat, aku benar2 merindukanmu....

*****

Dari tepi danau.. seorang perempuan muda memasukkan secarik kertas ke dalam sebuah botol bening... dan menghanyutkan botol itu ke tengah danau... angin yang berhembus membawa perlahan botol itu ke tengah danau... dan angin sepoi2 mengibaskan kertas yang diselipkan di leher botol... secarik kertas berpita ungu... dengan tulisan bertinta ungu... "Surat Untuk Sahabat.."